Dalam suatu acara walimatus-safar seorang tetangga sabtu lalu, ustadz yang ngasih ceramah nanya ke jamaah yg hadir,
"Pada mau pergi haji tahun depan?"
"Mauu..." jawab jamaah serempak.
"Nyetor!!!" balas sang ustadz.
Ya, klo memang bener-bener niat haji, ya nyetor lah. Minimal nyetor tabungan haji walaupun sedikit-sedikit. Jangan pake alesan, rumah masih kredit, mobil masih kredit. Hajinya sekalian dikreditin jg dong. Kredit di depan :)
Aneh emang, mau naik haji nunggu tabungan banyak, tapi tabungan hajinya g dipisahin. Ya udah, dikit2 kepake beli hp baru, dikit2 kepake buat jalan-jalan, dikit2 kepake buat beli baju, sepatu, tas, de el el, ya tabungannya dikit terus. Trus, kapan mo hajinya?!
Makanya, buat tuh tabungan khusus haji. Klo di indonesia, salah satunya ada di Bank Muamalat (pake bank syariah ya, jangan yg konven, kcuali kpaksa ;), atau tabung pake emas biar lebih keren. Intinya, diperluin tabungan yg bener2 khusus, yg gak diganggu gugat, yg ditambah secara periodik dg jumlah tertentu, biar afdhol tuh niat hajinya.
Ahad kemaren dapet cerita ttg temen trainee waktu di Nagano-ken yang berhasil pergi haji pas selesai program trainee-nya di Jepang. Ternyata dia dah daftar n nyetor dikit2 sjak di Jepang. Subhanallah. Gitulah klo rizki yg berkah. Nah, trainee dah bisa, gimana dg orang kantoran n bisnis man/woman (inklud tukang bisnis online :)?
Nunggu panggilan?
"Budek tuh orang, klo masih ngerasa blm dipanggil", kata ustadz Sabtu kemarin.
Atau klo kata2 di film Emak Ingin Naik Haji,
"Panggilan Allah? Mati dong..."
Ibarat sholat yang dibilang batal klo rukun2nya, gak dilakuin, maka Islam kita juga bisa batal klo hajinya gak dilaksanain, padahal sebenernya kita mampu.
Jadi kesimpulannya,
Nyetorrrr !!!
Sunday, 31 October 2010
Wednesday, 27 October 2010
Indonesia Surga bagi Industri Rokok?
Selain mafia rokok yg sdh bisa ngapus kata-kata "tembakau" di UU, pemerintah sendiri tampaknya memang kurang tegas thd alat perusak kesehatan ini..
--------------------------
Jakarta, Suburnya industri rokok di Indonesia salah satunya karena pemerintah membebankan harga dan pajak yang lebih rendah dibandingkan negara lain bagi industri rokok. WHO menilai Indonesia terlalu takut menaikkan pajak dan cukai rokok.
"Seharusnya pemerintah Indonesia berani menaikkan harga dan pajak rokok, serta memperketat regulasi yang ada tentang rokok, seperti Thailand, Selandia Baru, Australia atau Singapura," ungkap Dr Douglas Bettcher, Director of Tobacco Free Initiative WHO, dalam acara temu media tentang Framework Convention of Tobacco Control (FCTC) di Gedung Bina Mulia 1, Jakarta, Rabu (27/10/2010).
Menurut Dr Bettcher, Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota Region Asia Tenggara yang belum meratifikasi (menandatangani dan mengesahkan) Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).
FCTC adalah suatu traktat internasional berbasis data ilmiah yang menegaskan kembali hak semua orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. FCTC dibuat untuk menghadapi globalisasi epidemi tembakau.
Salah satu ketentuan yang terdapat dalam FCTC adalah pasal 6 mengenai upaya penanganan harga dan pajak untuk menguragi permintaan tembakau.
"Indonesia belum menjadi anggota FCTC dan Indonesia masih takut menaikkan beban harga dan pajak untuk industri rokok, itulah yang menyebabkan Indonesia dianggap sebagai Disney Land industri rokok," jelas Dr Bettcher yang juga tim editor dari jurnal ilmiah Bulletin of the World Health Organization.
Upaya peningkatan harga dan pajak tembakau adalah cara penting dan efektif untuk mengurangi konsumsi tembakau. Praktik terbaik menurut Dr Bettcher adalah penentuan pajak di atas 75 persen harga eceran.
Tingkat cukai di Indonesia adalah sekitar 53 persen untuk merek rokok paling laku, namun harga jualnya rendah sekitar Rp 10.000 untuk sebungkus berisi 20 batang rokok paling laku.
"Menaikkan harga dan pajak rokok justru akan menguntungkan Indonesia dari segi kesehatan dan juga ekonomi. Secara ekonomi penghasilan negara akan meningkat dan secara kesehatan konsumsi rokok rakyat Indonesia menurun," jelas Dr Bettcher.
Selain masalah harga dan pajak, Dr Bettcher menilai yang banyak menjadi masalah adalah nasib petani tembakau.
"Petani tembakau tidak akan kehilangan pekerjaan, karena bila dihitung penghasilan yang diperoleh oleh petani tembakau jauh lebih kecil dibandingkan dengan petani yang lain. Petani masih bisa beralih ke jenis pertanian lain selain tembakau," jelas Dr Bettcher.
Upaya peningkatan harga dan pajak rokok telah berhasil dilakukan oleh beberapa negara seperti Thailand, Selandia Baru, Australia dan Singapura. Negara-negara tersebut telah terbukti bisa menaikan standar kesehatan dan ekonomi dengan menaikkan harga dan pajak rokok.
"Jangan jadikan Indonesia sebagai Disney Land untuk industri rokok, tapi ciptakan utopia baru untuk Indonesia yang bebas rokok," tutup Dr Bettcher.
sumber : detik.com
--------------------------
Jakarta, Suburnya industri rokok di Indonesia salah satunya karena pemerintah membebankan harga dan pajak yang lebih rendah dibandingkan negara lain bagi industri rokok. WHO menilai Indonesia terlalu takut menaikkan pajak dan cukai rokok.
"Seharusnya pemerintah Indonesia berani menaikkan harga dan pajak rokok, serta memperketat regulasi yang ada tentang rokok, seperti Thailand, Selandia Baru, Australia atau Singapura," ungkap Dr Douglas Bettcher, Director of Tobacco Free Initiative WHO, dalam acara temu media tentang Framework Convention of Tobacco Control (FCTC) di Gedung Bina Mulia 1, Jakarta, Rabu (27/10/2010).
Menurut Dr Bettcher, Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota Region Asia Tenggara yang belum meratifikasi (menandatangani dan mengesahkan) Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).
FCTC adalah suatu traktat internasional berbasis data ilmiah yang menegaskan kembali hak semua orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. FCTC dibuat untuk menghadapi globalisasi epidemi tembakau.
Salah satu ketentuan yang terdapat dalam FCTC adalah pasal 6 mengenai upaya penanganan harga dan pajak untuk menguragi permintaan tembakau.
"Indonesia belum menjadi anggota FCTC dan Indonesia masih takut menaikkan beban harga dan pajak untuk industri rokok, itulah yang menyebabkan Indonesia dianggap sebagai Disney Land industri rokok," jelas Dr Bettcher yang juga tim editor dari jurnal ilmiah Bulletin of the World Health Organization.
Upaya peningkatan harga dan pajak tembakau adalah cara penting dan efektif untuk mengurangi konsumsi tembakau. Praktik terbaik menurut Dr Bettcher adalah penentuan pajak di atas 75 persen harga eceran.
Tingkat cukai di Indonesia adalah sekitar 53 persen untuk merek rokok paling laku, namun harga jualnya rendah sekitar Rp 10.000 untuk sebungkus berisi 20 batang rokok paling laku.
"Menaikkan harga dan pajak rokok justru akan menguntungkan Indonesia dari segi kesehatan dan juga ekonomi. Secara ekonomi penghasilan negara akan meningkat dan secara kesehatan konsumsi rokok rakyat Indonesia menurun," jelas Dr Bettcher.
Selain masalah harga dan pajak, Dr Bettcher menilai yang banyak menjadi masalah adalah nasib petani tembakau.
"Petani tembakau tidak akan kehilangan pekerjaan, karena bila dihitung penghasilan yang diperoleh oleh petani tembakau jauh lebih kecil dibandingkan dengan petani yang lain. Petani masih bisa beralih ke jenis pertanian lain selain tembakau," jelas Dr Bettcher.
Upaya peningkatan harga dan pajak rokok telah berhasil dilakukan oleh beberapa negara seperti Thailand, Selandia Baru, Australia dan Singapura. Negara-negara tersebut telah terbukti bisa menaikan standar kesehatan dan ekonomi dengan menaikkan harga dan pajak rokok.
"Jangan jadikan Indonesia sebagai Disney Land untuk industri rokok, tapi ciptakan utopia baru untuk Indonesia yang bebas rokok," tutup Dr Bettcher.
sumber : detik.com
Tuesday, 26 October 2010
Wednesday, 20 October 2010
Bismillah Mail
http://bismillah.com/email/
baru nemu nih.. lumayan buat ngeramein karya umat islam...
muqorrobinATbismillah.com :)
baru nemu nih.. lumayan buat ngeramein karya umat islam...
muqorrobinATbismillah.com :)
Wednesday, 13 October 2010
Yunani Gebuk Israel
Nonton berita pagi ini, ada cerita Yunani Gebuk Israel. Kok bisa? Ya bisalah, kan pertandingan sepakbola, kualifikasi piala eropa 2012. Skor akhir 3-1.
Tapi sebelum laga dimulai sepertinya rakyat Yunani benar-benar ingin menggebuk Israel.
--------------sumber: republika.co.id--------

-----------------
Berita terkait:
Puluhan Pengacara Tuntut Israel di Den Haag
Tapi sebelum laga dimulai sepertinya rakyat Yunani benar-benar ingin menggebuk Israel.
--------------sumber: republika.co.id--------
Israel Pembunuh
REPUBLIKA.CO.ID,ATHENA--Dalam upayanya untuk mendukung masalah Palestina,terkait persiapan negaranya dalam kualifikasi piala dunia tahap ke empat pada tahun 2012 antara Yunani dan Entitas Israel , sejumlah warga Yunani menyambut klub Israel dengan bendera Palestina.
Mereka mengibarkan bendera Palestina dan memakai topi Palestina di depan para pemain Israel. Selain itu, mereka juga meneriakan kata-kata dukungan terhadap Palestina dan mengecam penjajahan. Bahkan pada salah satu spanduk terpampang “Israel Pembunuh” dan “Bebaskan Palestina”.
Yunani adalah salah satu Negara Eropa, tempat pemberangkatan sejumlah kapal kemanusiaan untuk membebaskan rakyat Gaza dari blokade internasional sejak lima tahun lalu.
Berita terkait:
Puluhan Pengacara Tuntut Israel di Den Haag
Subscribe to:
Posts (Atom)