Thursday, 27 August 2009

Hadis-Hadis Bermasalah Seputar Doa

Tidak ada salahnya berdoa memakai lafazh yang ada di hadis dhaif (lemah). Yang salah adalah menisbatkan hadis dhaif pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, atau menganggap sunnah pengamalan tersebut.

asy-Syaikh Abdul Karim Al-Khudayr berpendapat bahwa doa di luar sholat boleh dibaca dengan bahasa apa saja. Namun afdhalnya dalam bahasa arab, karena masih dalam lingkup ibadat.

Adapun Syaikhul-Islam Ibn Taimiyah:
"Doa dibolehkan dalam bahasa Arab dan bukan bahasa Arab. Allah mengetahui apa yang tersirat di dalam do'a permintaannya. Terserah bahasa apa yang diucapkannya, kerana sesungguhnya Dia mendengar semua suara dari berbagai bahasa, memohon berbagai jenis hajat..."
[Majmu' al-Fataawa, 22/488-489]

Namun yang terbaik tetap berdoa dengan menggunakan apa yang datang dari al-Quran dan Hadis yang shahih.

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyah berkata:
"Manusia hendaklah berdo'a dengan doa-doa yang dibenarkan dalam syariat yaitu yang datang dari Al-Quran dan Sunnah! Karena sesungguhnya didalamnya tidak ada keraguan mengenai fadilat dan kebaikannya, dan sesungguhnya ia adalah jalan yang lurus. "
[Majmu' al-Fataawa, 1/346,348]


Nah, berikut ini adalah beberapa doa sehari-hari yang populer di kalangan kita tapi ternyata bermasalah..

1. Doa Berbuka Puasa
"Dari Anas, ia berkata: Adalah Nabi salallahu 'alaihi wa sallam, apabila berbuka beliau mengucapkan: Bismillah, Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu (artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).
[Riwayat: Thabrani di kitabnya Mu'jam Shogir hal 189 dan Mu'jam Auwshath]

Hadis ini dhaif karena:

Pertama:
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang perawi yang lemah, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi, al-Imam Abu Hatim, dan ad-Daruquthni. al-Imam Ibnu 'Ady mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak boleh dituruti

Kedua:
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan. Menurut asy-Syaikh al-Albani ia lebih buruk daripada Ismail bin Amr. al-Imam Abu Dawud dan Ibnu Hajar menilainya matruk (ditinggalkan, semi palsu). Al-Imam Ibnu 'Ady menghukuminya sama seperti Ismail bin Amr.

2. Doa sebelum makan
Apabila Nabi shallallahu alaihi wasallam hendak menyantap makanan, beliau membaca:
Allahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa adzaabannaar,
(Ya Allah berkahilah kami atas apa yang Engkau rizkikan kepada kami dan lindungilah kami dari api neraka)
(HR. at-Thabrani, Ibnu Sunni)

Hadis ini munkar karena adanya Muhammad bin Abi az-Zuaiziah dalam sanadnya.
al-Imam Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir (244) berkata, “Haditsnya sangat mungkar.”
Ibnu Hibban berkata, “Dia termasuk orang yang suka meriwayatkan hadits mungkar dari para imam yang masyhur… Tidak boleh berhujjah dengannya.”

Selain hadis tersebut ada hadis serupa (namun lafazh doanya lebih panjang) yang diriwayatkan oleh al-Imam Malik, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Baihaqi. Namun derajatnya dhaif, sehingga tetap tidak bisa menjadi hujjah.

3. Doa sesudah makan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika selesai makan, beliau mengucapkan: "Alhamdulillahilladzi ath'amanaa wa saqaanaa waj'alnaa minal muslimiin"
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang muslim)
(HR. Abu Dawud, at Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hadis ini dhaif. Karena jalur periwayatannya mudltharib (goncang), karena ada rawi yang tidak diketahui pasti namanya, ditambah lagi ada seorang rawi (Ismail bin Ribah, yang namanya juga diragukan kebenarannya) yang majhul (tidak dikenal keadaannya). Hal ini telah diterangkan oleh al-Imam Ibnul Madini, Abu Hatim dan Adz-Dzahabi. Demikian juga keadaan bapaknya, adalah seorang rawi yang majhul. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Dia ini mudltharib". al-Imam Adz-Dzahabi mengatakan, "Hadits ini gharib (asing) munkar"




Adapun di antara doa sebelum makan yang shahih adalah:

“Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
"Bismillah"
Apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca:
"Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi"
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, shahih, sebagaimana tercantum dalam kitab Hishnul
Muslim, karangan Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani).


Dan sesudah makan yang shahih, di antaranya
"Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) setiap kali selesai makan dan minum"
(HR. Muslim, shahih)

Atau kalo versi yang agak panjang
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwah". Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud, hasan)

arti doa: Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.

Untuk doa berbuka puasa yang shahih, silahkan cek postingan sebelum ini :)

4 comments:

  1. hmmm...sejauhmana orang yang mengamalkan doa tersebut TIDAK YAKIN kalau doa tersebut tidak datang dari sisi Nabi? tentu saja sangat sulit...jadi mending kita tinggalkan saja IMHO...

    ReplyDelete
  2. syukran atas masukannya mas Syamsul..
    maka itu saya menekankan pada kalimat kedua bahwa tidak boleh menisbatkan suatu doa pada Rasul jika tidak shahih sumbernya...

    insya Allah klo ada kesempatan akan saya perkuat lagi dg artikel syarat-syarat mengamalkan hadis dhaif.

    ReplyDelete
  3. Ternayata yang shohih cukup simple ya Akh...

    Bagaimana caranya menyampaikan ini kepada guru2 TKA & TPA ya..?
    "rasanya sulit Akh.."

    Jazakallahu khoir Akhi atas share-nya, Alhamdulillah Ana jd tahu sekarang..:)

    ReplyDelete
  4. menyampaikan itu babnya sudah lain, akhi..
    sesuaikan dengan situasi kondisi..
    yg penting kita usaha utk diri kita, lalu keluarga kita...
    jazakallah khayra

    ReplyDelete