Friday, 16 October 2009

Amin, Insya Allah??

Sudah lama pingin nulis tentang ini....

Terus terang saya heran dengan merebaknya cara berdoa model baru ini.. sepertinya baru dalam beberapa tahun terkahir, saya menemukan sebagian orang menutup kalimat-kalimat doanya dengan insya Allah. Padahal insya Allah bukanlah penutup kalimat doa. Yang lebih membuat saya heran terkadang insya Allah ditambahkan setelah kata amin. Kalau secara bahasa, maka artinya akan menjadi

Amin => perkenankanlah*

Insya Allah = jika Allah menghendaki

Amin, insya Allah = perkenankanlah jika Allah menghendaki..

kok kayaknya gimanaaa gitu...

dan rasa "gimanaaaa gitu" ini bukan sekedar perasaan saya doang, tapi perasaan yang terbangun dari hadis berikut ini..
لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ اَللّهُمَّ اغْفِرْليِ إِنْ شِئْتَ اَللّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمِ اْلمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لاَ مَكْرَهَ لََ

"Janganlah seseorang mengatakan dalam do'anya: Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, Ya Allah berikanlah rahmat kepadaku jika Engkau menghendaki, hendaklah dia teguh dalam berdo'a sebab perbuatan tersebut tidak dibenci" (Shahih al-Bukhari dan Muslim)

Walaupun dalam hadis yang disebutkan adalah kata "insyi'ta" (bila Engkau menghendaki), bukan "insya Allah" (bila Allah menghendaki), saya rasa tidak ada di antara kita  yang akan mengatakan bahwa makna kedua ungkapan tersebut berbeda.

Jika kita sudah sepakat, maka jelaslah bagi kita, bahwa mengakhiri doa kita dengan kata insya Allah adalah sesuatu yang menyalahi adab/syariat berdoa.

Penggunaan "amin" dan "insya Allah" dapat kita bedakan dengan jelas melalui contoh berikut:

1. Semoga saya bisa hadir di majelis ilmu besok. Amiin

2. Saya akan hadir di majelis ilmu besok. Insya Allah.

Kalimat pertama adalah kalimat doa, sedangkan kalimat kedua adalah kalimat pernyataan.

Semoga Allah membantu kita dalam memahami adab-adab dalam berislam lebih baik lagi. Amiin :)



--------------------------------------------
*akar katanya dalam bahasa arab saya kurang tahu, tp biasa diterjemahkan demikian

---------------------------------------------


Artikel yang mungkin agak-agak berhubungan ^_^;

Masya Allah atau Subhanallah?
Subhanallah banget?




----------------------------------------------



41 comments:

  1. saya nanya: seberapa sering seharusnya kita mengucapkan insya Allah, sejak kita tidak tau apapun tentang detik berikutnya?

    ReplyDelete
  2. uum,, sist,,, gimana dengan pendapat ini:
    "bukankah setiap kata yg keluar dr mulut kita adalah doa?"

    bahkan sebuah umpatan pun bisa menjadi doa, makanya kita diminta untuk menjaga lidah kita, walau cuma bercanda saja. Karena khawatir di"iyakan" sama Allah.

    ReplyDelete
  3. sist = sister ?
    saya brother nih.. :)

    menjaga setiap perkataan itu memang bagian dari adab muslim, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadis arba'in
    " barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata benar atau diam" (shahih)

    namun mengatakan bahwa setiap kata adalah doa, menurut saya agak berlebihan.. karena doa itu memiliki adab, dan kesungguhan adalah salah satu adabnya.. sedangkan perkataan kita sehari-hari tidak selalui disertai kesungguhan dalam berharap (kpd Allah), bahkan hanya berupa pernyataan2 saja..
    "saya sekarang lagi kuliah", tentu kalimat ini tidak mengandung unsur doa

    demikian, wallahu a'lam :)

    ReplyDelete
  4. sependek pengetahuan saya, insya Allah dianjurkan untuk diucapkan sesering mungkin untuk semua pernyataan masa depan yang belum pasti.
    seperti,
    besok ada majelis ilmu, insya Allah

    adapun ungkapan masa depan yg tdk pasti, maka tidak membutuhkannya
    sperti,
    besok hari rabu, insya Allah

    lebih lanjut tentang hal ini mgkn bisa diilhat di tafsir surat al-Kahfi: 23-24.. berdasarkan yg pernah saya dapat, "insya Allah" menjadi wajib jika melakukan janji (berdasarkan ayat tsb). Mungkin janji dan sekedar pernyataan masa depan dibedakan hukumnya. Wallahu a'lam.
    (masih perlu diteliti lagi.. ^_^;)

    ReplyDelete
  5. hehehe.. sempet nyasar ke tulisan yg mirip dari mas Syamsul ketika nyari teks b.arab hadisnya.. :)

    ReplyDelete
  6. maaf :p
    tulisan di pojok kanan "syaikhul is your sister Nailah's brother"
    dan yg di bold kata Nailah nya... jd kirain ini punya Nailah..
    maaf ya :D

    btw makasih atas jawabannya ^^

    ReplyDelete
  7. jadi penasaran, jurusannya robin kuliah teh apaa?? dalem banget deh ngebahas sesuatu =)

    ReplyDelete
  8. mari dilanjut lagi dgn biidznillah juga qadarallah wa masya'a fa'al.agar lebih paripurna pembahasannya yaa syaikh. =)

    ReplyDelete
  9. jurusan saya, bahasa kerennya fiqh muamalat..
    bahasa modernnya islamic finance.. :)
    lebih g nyambung lg yah?! hehehe

    ReplyDelete
  10. sepertinya antum nih yang sudah siap membahasnya... :)

    qadarallah wa masya'a fa'al sekilas ana muat di postingan yang lalu (ada di artikel di artas)

    ReplyDelete
  11. ah gaklah. dirimu aja kawan. nanggung tuh...hayo..hehe

    ReplyDelete
  12. ttg biidznillah ana tidak punya bekal untuk membahasnya scr khusus, ttg qadarallaha wa masya'a fa'al, ana cukupkan dlm pembahasan "masya Allah" yg lalu.. :)

    jadi kami menunggu pembahasan dikau, kawan... :)

    ReplyDelete
  13. wah..jazakallah khairan katsir..ilmu yang bermanfaat banget..trimakasih udah mengingatkan..

    ReplyDelete
  14. masya Alloh, br tahu mas! ini tren di mana?

    ReplyDelete
  15. wah..jazakallah khairan katsir..ilmu yang bermanfaat banget..trimakasih udah mengingatkan..

    ReplyDelete
  16. jazakillah khayran.. trimakasih kembali... :)

    ReplyDelete
  17. kayaknya sih g sampe jadi tren.. :)
    cuma agak sering denger sbagian orang ngomong/nulis begitu...

    ReplyDelete
  18. sedikit nyang ane pahamin tentang "Insya Alloh" :

    Apabila kite berjanji dan setelah matang bertfikir dan menimbang sehihingga merasa bisa memenuhi janji tsb, maka kite ngucapin "Insya ALLOH" sebage pernyataan "Siap memenuhi Janji". Ini berarti kite telah berjanji bukan hanya kepade manusia tetapi juga kepada Alloh SWT. Jadi, 99 % Wajib buat kite untuk berusahe mati-matian memenuhin janji tsb kecuali jika 1% terhalang udzur dari Taqdir-Nya.

    Ini mengajarkan pula kepade kite untuk berani berkata "Tidak" jika memang kite menimbang dan mengira tidak akan bisa memenuhi janji.

    Yang sangat disayangkan adalah, Dewasa ini kalimat "Insya Alloh" biasa digunakan untuk menolak secare halus sebuah permintaan. Misalnye :

    "mpok ning, besok bise hadir gak ?"
    Karena Ning Cuk merasa tidak bisa hadir tetapi Tidak berani atau sungkan kepada yang mengajak maka dia mengucapkan :
    "Insya Alloh deh ya" ...

    lahh pengertian dan sikap begiini nih, nyang bikin benih2 kemunafikan tumbuh subur didalem hati manusie.

    ReplyDelete
  19. Kalau ana terlupa, tolong diingatkan jk pernah atau melihat postingan ana yg ada hal demikian.
    Jazakalloh khoir.
    Atau kalau Insya ALLOH, Amin juga termasuk kategori hadits diatas kah?

    ReplyDelete
  20. ho~ maturnuwun atas tulisannya, sensei. Jadi pengingat en pengoreksi diri :D
    Btw, iya tuh. Jadi inget pernah ada orang asing yang nanya. Terkait "kebiasaan" orang Indonesia yang mengucapkan "InsyaAllah". Menurut dia (orang asing tsb), apakah maksudnya insyaAllah berarti kemungkinan terpenuhinya janji itu 50 : 50 ? Ato lebih cenderung ke "nggak" ?? Pas itu, mak jleb...jleb...Piye ya....hm...hm...

    ReplyDelete
  21. betul betul betul,,jazakALLAH kak :D

    ReplyDelete
  22. iidesne,,,bokuno pengetahuan fuemashitane,,,,arigato ne,,,,,,,,

    ReplyDelete
  23. ini penggunaan yang jg menyimpang nih..
    sangat disayangkan memang :(

    ReplyDelete
  24. sama-sama akhi.. jazakallah khayra

    "insya Allah, amin" termasuk kategori di atas, dan tidak sesuai adab berdoa. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  25. memang klo kebiasaan di masyarakat ada kecenderungan seperti itu...
    tp jelasin aja, sebagian memang ada yg sperti itu, tapi SEBENARNYA "insya Allah" itu tidak bermakna demikian, bahkan bermakna sebaliknya.terus terang aja klo sebagian orang islam memang belum mempraktikkan islam dengan sebenarnya. penjelasan ini penting agar jika mereka melihat sebagian muslim berperilaku kurang baik, maka mereka tidak berpikiran bahwa islam agama yg kurang baik. Muslimnya lah yg masih kurang baik, sedangkan Islam adalah sebaik-baik agama :)

    ReplyDelete
  26. kayak ipin upin aja.. :D
    jazakillah khayran...

    ReplyDelete
  27. dou itashimaste, abidin san...
    salam buat rekan2 di nagano.. :)

    ReplyDelete
  28. Jazakallah khoir ya Akhi.., semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  29. adi yang sejurusan sama dyah, robin apa putri??

    *kok jadi wawancara ya? :P

    ReplyDelete
  30. yang sejurusan itu sayah..
    putri mah di rumah (di bogor sekarang).. :)

    ReplyDelete
  31. ooohh.... kirain teh putri....

    wahh wahhh... kok jadi LDR....semoga dimudahkan =)

    ReplyDelete
  32. terima kasih ilmunya....
    baarokallohu fiik

    ReplyDelete
  33. terimakasih kembali...wa fiiki barakallah

    ReplyDelete